Jualan di GoFood & GrabFood: Untung Setelah Komisi

Panduan • Jualan Online
Jawaban singkat: GoFood memotong sekitar 20% + Rp1.000 per transaksi dari harga jual di aplikasi — artinya es teh yang biasanya untung Rp2.800 per gelas bisa tersisa Rp800 saja kalau harga tidak dinaikkan. Kuncinya tiga: naikkan harga khusus aplikasi (praktik umum merchant), hitung ulang komisi sebagai biaya per unit, dan hati-hati dengan menu termurah — biaya tetap Rp1.000 memukulnya paling keras. Simulasi angka lengkapnya di bawah.

Berapa Sebenarnya Potongan Platform Delivery?

Skema yang paling banyak dilaporkan dan terdokumentasi di media kredibel:

  • GoFood: 20% + Rp1.000 per transaksi untuk mitra yang bergabung sejak Maret 2021 (dari skema lama 12% + Rp5.000) — dilaporkan Bisnis.com dan Liputan6. PPN dikenakan atas nilai komisinya, bukan atas harga makanan.
  • GrabFood: sekitar 15–30% dan ShopeeFood: sekitar 12–20% — ini rentang yang dilaporkan para merchant, bukan tarif resmi yang dipublikasikan. Angka pasti berbeda per kota, kategori usaha, dan kesepakatan kemitraan.
  • Penjualan langsung / QRIS: 0% komisi platform (potongan QRIS 0–0,7%).

Jujur soal data: platform tidak mempublikasikan satu tarif resmi untuk semua merchant. Cara paling akurat untuk usaha Anda: buka laporan penyelesaian (settlement) di aplikasi merchant, total semua potongan bulan lalu, bagi dengan total penjualan — itulah persentase efektif Anda.

Rumus: Uang yang Benar-Benar Masuk Kantong

Tiga baris ini mengubah cara Anda melihat jualan online:

  • Diterima per unit = harga di aplikasi × (1 − komisi) − biaya tetap per transaksi
  • Untung per unit = uang diterima − HPP
  • Margin = untung ÷ harga di aplikasi × 100%

Perhatikan: komisi platform masuk kategori biaya per unit — persis seperti kemasan atau ongkir subsidi. Di kalkulator margin, masukkan angkanya di kolom biaya per unit; hasil langsung jujur.

Simulasi Nyata: 3 Produk Warung Biasa

Tabel ini memakai HPP terverifikasi dari contoh hitungan situs ini — es teh manis, nasi goreng, dan kopi susu gula aren. Skenario A: harga di aplikasi sama dengan harga warung (jebakan umum pemula). Skenario B: harga aplikasi dinaikkan — praktik yang memang dilakukan mayoritas merchant.

Skenario A — Harga aplikasi = harga warung (TANPA naik)

ProdukHPPHarga appPotongan (20%+1rb)Untung tinggalTurun
Es teh manisRp 2.200Rp 5.000Rp 2.000Rp 800−71%
Nasi gorengRp 9.600Rp 16.000Rp 4.200Rp 2.200−66%
Kopi susu arenRp 6.725Rp 18.000Rp 4.600Rp 6.675−41%

Es teh paling parah terpukul: untung Rp2.800 tinggal Rp800. Kenapa persentasenya paling buruk? Karena biaya tetap Rp1.000 itu berat untuk menu murah: dari harga Rp5.000, Rp1.000 saja sudah 20% — belum termasuk komisi 20%. Potongan efektif es teh mencapai 40%, sementara kopi susu “hanya” 25,6%. Semakin murah menu, semakin kejam persentase biaya tetapnya.

Skenario B — Harga aplikasi dinaikkan (praktik umum)

ProdukHPPHarga appPotonganDiterimaUntungMargin
Es teh manisRp 2.200Rp 8.000Rp 2.600Rp 5.400Rp 3.20040%
Nasi gorengRp 9.600Rp 20.000Rp 5.000Rp 15.000Rp 5.40027%
Kopi susu arenRp 6.725Rp 22.000Rp 5.400Rp 16.600Rp 9.87545%

Hasil yang mengejutkan bagi banyak penjual: es teh di aplikasi Rp8.000 justru lebih untung (Rp3.200) daripada jualan warung Rp5.000 (Rp2.800) — sebab pembeli aplikasi memang siap membayar kenyamanan pesan-antar. Nasi goreng dan kopi susu sedikit turun dari versi warung, tapi tetap jauh lebih sehat daripada Skenario A.

Strategi Anti-Boncos di Aplikasi Delivery

1. Pisahkan harga aplikasi dari harga warung

Bukan rahasia lagi: harga menu di aplikasi memang wajar lebih tinggi 25–60% daripada harga makan di tempat/ambil sendiri. Pembeli aplikasi membayar untuk kenyamanan; Anda menutup komisi dari sana. Yang penting margin versi aplikasi tetap di atas batas sehat (30%+ untuk minuman, lihat panduan margin bingung istilahnya).

2. Bundling: menu murah jangan jalan sendiri

Karena biaya tetap Rp1.000 menghantam menu murah, jangan biarkan es teh Rp5.000 dijual sendirian di aplikasi. Jadikan paket: “nasi goreng + es teh Rp26.000” — potongan tetap satu kali per transaksi, untung per transaksi membengkak. Logika paketnya sama dengan prinsip diskon tanpa rugi: angka total yang dilihat pembeli, margin yang Anda hitung.

3. Ikut promo platform hanya setelah hitung

“Gratis ongkir dari merchant”, diskon 30% dibiayai setengahnya, voucher bundling — semua promo platform terlihat menaikkan pesanan, tapi setiap rupiah subsidi ikut memotong margin. Sebelum ikut program apa pun, simulasikan di kalkulator margin dengan skenario harga terendah setelah promo. Kalau hasilnya di bawah 15%, jangan ikut.

4. Bandingkan dengan jalur langsung (QRIS/WA)

Pelanggan yang memesan lewat WhatsApp atau datang langsung dan bayar QRIS tidak terpotong komisi 20%. Usaha sehat biasanya memakai aplikasi untuk pelanggan baru, lalu mengarahkan pelanggan langganan ke jalur langsung — stiker “pesan langsung WA” di kemasan adalah trik klasik yang masih efektif.

Kapan Aplikasi Delivery Masih Masuk Akal?

Tiga kondisi yang membuat komisi 20%+masuk akal:

  • Lokasi sepi. Titik jualan tanpa lalu-lalang — aplikasi menggantikan fungsi “etalase”. Tanpa aplikasi, omzet nol.
  • Pangsa pasar baru. Aplikasi memperluas jangkauan pelanggan 3–5 km — volume naik menutup margin tipis. Hitung dampaknya ke untung per bulan, bukan per unit saja.
  • BEP tercapai lewat volume. Contoh nyata: warung nasi goreng dengan biaya tetap Rp1,5 juta/bulan butuh 235 porsi offline (untung Rp6.400) — atau 277 porsi via aplikasi (untung Rp5.400). Kalau aplikasi menambah 100 porsi/hari yang sebelumnya tidak ada, keduanya tercapai lebih cepat. Titik impasnya dihitung di kalkulator BEP.

Sebaliknya: kalau mayoritas pesanan aplikasi berasal dari pelanggan yang sebenarnya mau beli langsung, Anda membayar komisi 20% tanpa tambahan pasar — itu kebocoran, bukan investasi.

Cek Sehat 60 Detik untuk Jualan Aplikasi Anda

  1. Buka laporan settlement aplikasi merchant → hitung persentase potongan efektif bulan lalu.
  2. Per produk terlaris: harga app − potongan − HPP = untung app. Bandingkan dengan untung versi langsung.
  3. Produk dengan untung app < Rp1.000 atau margin < 15% → naikkan harganya, bundling, atau keluarkan dari aplikasi.
  4. Tutup bulan dengan kalkulator untung-rugi yang sudah memasukkan potongan platform sebagai biaya.

Kesalahan paling umum tetap satu: menghitung untung dari “modal barang saja” dan lupa bahwa komisi, kemasan, dan subsidi promo ikut memotong sebelum uang sampai ke rekening.

FAQ Jualan di GoFood/GrabFood

Berapa potongan GoFood sekarang?

Skema yang paling banyak dilaporkan: 20% + Rp1.000 per transaksi untuk mitra sejak Maret 2021, PPN atas komisi. GrabFood dan ShopeeFood berada di rentang 12–30% tergantung kesepakatan — cek laporan settlement Anda untuk angka pasti.

Haruskah harga di aplikasi sama dengan harga warung?

Tidak — dan memang seharusnya beda. Naikkan 25–60% untuk menutup komisi, seperti simulasi tabel di atas: es teh Rp5.000 di warung wajar jadi Rp8.000 di aplikasi, dan untungnya justru bisa lebih besar.

Komisi platform masuk hitungan HPP atau biaya apa?

Masuk biaya variabel per unit (muncul hanya saat ada penjualan) — setara kemasan dan biaya admin. Tidak masuk HPP produksi. Di kalkulator margin, isikan di kolom biaya per unit.

Kenapa menu termurah paling rugi di aplikasi?

Karena biaya tetap Rp1.000 per transaksi tidak peduli harga menu. Dari es teh Rp5.000, Rp1.000 = 20% tambahan potongan; dari ayam geprek Rp30.000 hanya 3%. Menu murah paling baik dijual dalam bundling.

Promo “gratis ongkir dibiayai merchant” ikut atau tidak?

Hitung dulu: subsidi ongkir itu menambah biaya per transaksi di atas komisi. Simulasi skenario terburuk di kalkulator margin — kalau margin tersisa di bawah 15%, program itu merugikan sepopuler apa pun kelihatannya.

Halaman Terkait